Pramuwisata Sebagai Gerbang Masa Depan Keberhasilan Pariwisata Dalam Perspektif Era Digital

Pramuwisata Sebagai Gerbang Masa Depan Keberhasilan Pariwisata Dalam Perspektif Era Digital
Dr. Ainuddin S.H.,M.H. (Ketua DPD HPI NTB)
NTBOke - Globalisasi memiliki implementasi yang luas terhadap penghidupan dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ditinjau dari prespektif kebangsaan, globalisasi menimbulkan kesadaran bahwa kita merupakan warga dari suatu masyarakat global dan mengambil manfaat darinya, namun disisi lain, makin tumbuh pula dorongan untuk tumbuh lebih melestarikan dan memperkuat jati diri bangsa. Di era globalisasi, bangsa-bangsa bersatu secara mengglobal, tetapi bersamaan dengan itu muncul pula rasa kebangsaan yang berlebihan (sauvisisme) masing-masing bangsa, yang menyebabkan globalisasi merupakan era pengklaiman bangsa digital yang mengandalkan teknologi untuk melakukan setiap pekerjaan, sehingga tenaga manusia profesional tidak lagi dibutuhkan.

Perkembangan teknologi ke arah serba digital saat ini semakin pesat. Pada era digital seperti ini, manusia secara umum memiliki gaya hidup baru yang tidak bisa dilepaskan dari perangkat yang serba elektronik. Teknologi menjadi alat yang mampu membantu sebagian besar kebutuhan manusia. Teknologi telah dapat digunakan oleh manusia untuk mempermudah melakukan apapun tugas dan pekerjaan. Peran penting teknologi inilah yang membawa peradaban manusia memasuki era digital.

Era digital adalah istilah yang digunakan dalam kemunculan digital, Media baru Era Digital sering digunakan untuk menggambarkan teknologi digital. Media ini memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat jaringan internet, selain internet seperti media cetak, televisi, majalah, koran dan lain-lain bukanlah termasuk dalam kategori media baru. Media massa beralih ke media baru atau media online karena ada pergeseran budaya dalam sebuah penyampaian informasi. Kemampuan media era digital ini memang lebih memudahkan masyarakat dalam menerima informasi lebih cepat dalam hal ini digital yang membuat media massa berbondong-bondong pindah haluan.

Era digital ini tentunya membawa dampak bagi kehidupan suatu Negara termasuk Indonesia. Dampak digitalisasi tersebut meliputi dampak positif dan negatif di berbagai bidang kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya, profesi dan yang lainnya sehingga akan berdampak pada nilai-nilai positif dan negative dalam berbangsa.

Era digital memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk semakin mudah mendapatkan informasi sekaligus hiburan dari berbagai tempat, namun hal tersebut juga melahirkan harapan dan keinginan masyarakat yang semakin tinggi. Akan tetapi harapan dan keinginan tersebut tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup, dan perlindungan terhadap tenaga kerja profesional yang khususnya dalam bidang kepramuwisataan sehingga menimbulkan kekagetan budaya bahkan mengikis lapangan kerja kaum profesional, demikian juga akan menimbulkan keinginan dan konsumsi berlebihan akan produk hasil kemajuan digital. Hal ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi yang serba digital dapat membawa dampak negatif dalam perkembangan masyarakat dewasa ini.

Teknologi digital dimasa kini semakin canggih ini membuat perubahan besar terhadap dunia, lahirnya berbagai macam teknologi digital yang semakin maju telah banyak bermunculan. Berbagai kalangan telah mudah dalam mengakses suatu informasi melalui banyak cara, serta dapat menggunakan fasilitas dari teknologi digital dengan bebas tak terkendali.

Namun, dibalik kepopulerannya era digital memiliki berbagai dampak negatif yang bisa merugikan kaum profesional sebagaimana disinggung di atas. Ada kebebasan diberikan oleh pemerintah di berbagai lini terkait dengan keinginan bersama dalam memajukan pariwisata akan menjadi bumerang khusus kepada profesi Pramuwisata. Berdasarkan pada pemikiran inilah, maka penulis menulis artikel tentang “Pramuwisata Sebagai Gerbang Masa Depan Keberhasilan Pariwisata dalam Perspektif Era Digital”.

Perkembangan teknologi ke arah serba digital saat ini semakin pesat. Pada era digital seperti ini, manusia secara umum memiliki gaya hidup baru yang tidak bisa dilepaskan dari perangkat yang serba elektronik. Teknologi menjadi alat yang mampu membantu sebagian besar kebutuhan manusia. Teknologi telah dapat digunakan oleh manusia untuk mempermudah melakukan apapun tugas dan pekerjaannya. Peran penting teknologi inilah yang membawa peradaban manusia memasuki era digital.

Era digital telah membawa berbagai perubahan yang baik sebagai dampak positif yang bisa gunakan sebaik-baiknya. Namun dalam waktu yang bersamaan digital juga membawa banyak dampak negatif, sehingga menjadi tantangan baru dalam kehidupan manusia, tantangan pada era digital telah pula masuk ke dalam berbagai bidang seperti bidang pariwisata, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, keamanan, teknologi informasi itu sendiri yang demikian canggih.

Semakin canggihnya teknologi digital masa kini membuat perubahan besar terhadap dunia, lahirnya berbagai macam teknologi digital yang semakin maju telah banyak bermunculan. Berbagai kalangan telah dimudahkan dalam mengakses suatu informasi melalui banyak cara, serta dapat dengan  bebas  mempergunakan teknologi digital tersebut tanpa kendali.

Dalam perkembangan teknologi digital ini tentu banyak dampak yang dirasakan dalam era digital ini, baik dampak positif maupun dampak negatifnya.

Adapaun dampak positif era digital, yaitu antara lain:

a. Informasi yang dibutuhkan dapat lebih cepat dan lebih mudah dalam mengaksesnya.

b. Tumbuhnya inovasi dalam berbagai bidang yang berorientasi pada teknologi digital yang memudahkan proses dalam pekerjaan kita.

c. Munculnya media massa berbasis digital, khususnya media elektronik sebagai sumber pengetahuan dan informasi masyarakat.

d. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

e. Munculnya berbagai sumber belajar seperti perpustakaan online, media pembelajaran online, diskusi online yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

f. Munculnya e-bisnis seperti toko online yang menyediakan berbagai barang kebutuhan dan memudahkan mendapatkannya.

Adapaun dampak negatif era digital yang harus diantisipasi dan dicari solusinya untuk menghindari kerugian atau bahaya, antara lain:

a. Ancaman pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) karena  akses data yang mudah dan menyebabkan orang akan melakukan kecurangan dan kejahatan digital.

b. Ancaman meningkatnya angka pengangguran.

c. Ancaman terjadinya kesenjangan sosial.

d. Meningkatnya angka kemiskinan.

e. Dapat memicu terjadinya kejahatan.

f. Ancaman terjadinya pikiran pintas dimana anak-anak seperti terlatih untuk berpikir pendek dan kurang konsentrasi.

g. Ancaman penyalahgunaan pengetahuan untuk melakukan tindak pidana seperti menerobos sistem perbankan, dan lain-lain (menurunnya moralitas).

h. Tidak menghargai kaum profesional (seperti Pramuwisata)

Dunia digital tidak hanya menawarkan peluang dan manfaat besar bagi publik dan kepentingan bisnis, namun juga memberikan tantangan terhadap segala bidang kehidupan untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi dalam kehidupan. Penggunaan bermacam teknologi memang sangat memudahkan kehidupan, namun gaya hidup digital pun akan makin bergantung pada penggunaan ponsel dan komputer, dan tentunya menghilangkan nilai-nilai kehidupan yang telah lama ada ditengah-tengah masyarakat, tidak diherankan lagi nilai silaturrahmi akan semakin terkikis karena salam dan kabar cukup disampaikan melalui pesan singkat.

Pengembangan berbagai aplikasi merebak seiring diproduksinya ponsel pintar dengan operating system (OS) yang semakin mendekatkan diri pada kehidupan manusia yang ditujukan demi kemudahan dan kenyamanan penggunanya. Perkembangan OS juga merambah kepada beberapa aplikasi yang mampu melengser produk lokal. Misalkan dalam bidang pariwisata, Kotasi Senggigi salah satu jasa Transport yang sangat menjanjikan masa depan anggotanya sebelum era digital, sampai-sampai untuk menjadi member/ anggota harus menyiapkan uang puluhan juta, dan pada saat sangat diminati oleh wisatawan sebagai alternatif transport selain travel agent, namun saat ini Kotasi Senggigi jasa transport sudah tidak bisa lagi diharapkan menunjang kehidupan anggotanya sebagaimana sebelumnya karena adanya aplikasi Go-Jek, Go-Car, Gober, Grab, dan yang lainnya, yang telah disediakan oleh vendor digital, selain dari Kotasi Senggigi, ojek tradisional juga mengalami kerugian karena dikalahkan oleh aplikasi tersebut. Selain itu ada juga contoh lain, yaitu travel agent yang merupakan salah satu tempat pemesanan tiket transportasi laut dan udara, paket tour baik diving, snorkling, trekking atau istilah penulis adalah dengan one stop shopping, namun pada era digital ini, travel agent sudah tergeser dan diambil alih oleh aplikasi digital saat ini, seperti traveloka, e-ticket dan yang lainnya.

Dalam hal ini, teknologi digital dikhawatirkan dapat menggeser peran dan kedudukan dari profesi Pramuwisata itu sendiri hal tersebut sangat mungkin untuk terjadi khususnya di Indonesia, karena hal ini telah terjadi di luar negeri, bahwa profesi Pramuwisata sudah tergeser dengan adanya aplikasi Go Guide atau Digital tourist Guide yakni disalah satu obyek pariwisata di New South wales Australia tepatnya di “Tableland”, hamparan hutan lindung yang begitu luas dengan berbagai macam jenis tanaman biotic dan abiotik, dijaga oleh dua orang selaku tenaga kerjanya yang masing-masing memiliki tugas, satu menghitung uang dari pembelian tiket masuk dan satu lagi memasang perangkat digital (Digital Tourist Guide), wisatawan tanpa dipandu oleh lokal guide, cukup dengan prangkat digital tersebut, itupun sudah tersedia berbagai bahasa hanya dengan memilih tombol bahasa sesuai kebutuhan wisatawan.

Penulis baru menyadari apa yang telah disampaikan oleh salah satu pakar pariwisata berkelanjutan (Sustainable Tourism), Professor Noel Scott salah satu guru besar di Griffith University, beliau mengatakan “What do you think if conventional tourist guide is not being use anymore” penulis langsung menjawab “I have to protect them by law” beliau spontan mengatakan “DO IT” namun saat itu belum tergambar apa yang penulis kerjakan atas jawaban tersebut.

Saat ini telah nampak di Indonesia banyak aplikasi yang mengarah ke profesi Pramuwisata, seperti Google App, Google Earth, Waze dan yang lainnya, hal ini menjadi dasar adanya kekhawatiran akan pudarnya jejak Pramuwisata ini sendiri.

Dikahwatirkan jika hal ini terjadi, maka akan terlahir banyak angka pengangguran, tingkat kemiskinan semakin tinggi, dan bahkan dapat menimbulkan berbagai tindakan kejahatan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka Pramuwisata memerlukan pengaturan atau payung hukum yang mempunyai peranan yang sangat strategis dalam menjamin keberlanjutan penyelenggaraan kepariwisataan. Untuk itu maka penyelenggaraan kepariwisataan perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan serta penghidupan masyarakat khususnya kaum profesional (Pramuwisata), sekaligus untuk mewujudkan pengelolaan kepariwisataan yang serasi, selaras dan seimbang, melalui pengaturan kepramuwisataan yang diharapkan dapat menopang dan menunjang tujuan pembangunan di Republik Indonesia terutama bidang pariwasata.

Rencana pembentukan Undang-Undang RI Tentang Pramuwisata akan memperkuat paradigma baru bidang pariwisata yang sejalan dengan konsep pembangunan pariwisata di Indonesia. Dari aspek yuridis Pemerintah Republik Indonesia sampai akhir tahun 2014 memiliki beberapa ketentuan regulasi terkait dengan kepariwisataan, namun belum memiliki Undang-Undang khusus yang melindungi, mengatur serta Pramuwisata sebagai pelaku pariwisata di Indonesia.

Hal ini penting disebabkan karena Pramuwisata atau tourist guide merupakan profesi yang menjadi ujung tombak industri pariwisata dimana sejak orang keluar untuk berwisata sejak itu dibutuhkan peran dari tugas-tugas seorang Pramuwisata (Guide). Asosiasinya yaitu Himpunan Pramuwisata Indonesia tersebut yang merupakan salah satu dari 46 anggota asosiasi dunia World Federation or Tourist Guide Associations. Bahwa fungsi terpenting pramuwisata adalah menghubungkan wisatawan dengan pusat-pusat ikon destinasi dan khazanah budaya lokal. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa seorang Pramuwisata (Guide) adalah guru, informan, juru terang, wartawan, humas, pemandu, penerjemah, pendamping, penghibur, motivator, seniman bahkan sebagai pekerja budaya. Profesi Pramuwisata (tourist guide) di samping bertugas pokok memandu wisatawan, ia mampu berperan lebih strategis bagi kemajuan industri pariwisata nasional. Dalam sebuah Konferensi Guide Se-Dunia di Bali bulan Januari 2009, Organisasi WFTGA menempatkan Asosiasi pada peran ideal juga marketing system tak tergantikan, diprediksi era mendatang adalah terbukanya akses global pada Pariwisata Budaya dimana Nusantara menjadi titik penyangga peradaban dunia. Baik secara individu maupun organisasi. Tata laksana kepemanduan HPI, pemberdayaan profesi Tourist Guide harus terus ditingkatkan. Selain mendampingi dan menerangkan ditail obyek wisata dan potensi destinasi lokal pada para wisatawan, tugas melekat mereka adalah sales marketer produk-produk pariwisata.

Ada beberapa aspek atau perspektif yang dapat dipertimbangkan sebagai bahan untuk menata ketentuan yuridis pembentukan Undang-undang Tentang Pramuwisata yang menjadi naungan dari Pramuwisata itu sendiri yang independen di Indonesia, yaitu antara lain:

1. Landasan Filosofis, Sosiologis, dan Yuridis

2. Klasifikasi Lembaga, Komisi, dan Badan

3. Aspek Akuntabilitas

4. Variabel Independensi.

Peraturan perundang-undangan memiliki landasan dan pertimbangan filosofis, sosiologis, dan yuridis, secara sosiologis (kebutuhan sosial) menjadi dasar bagi konstruksi yuridis yang dilakukan untuk membentuk independensi Pramuwisata dalam meningkatkan mutu kualitas dibidangnya.

Demikian juga, HPI berfungsi sebagai wadah tunggal Pramuwisata Indonesia dalam rangka berkomunikasi antar Pramuwisata, Pramuwisata dengan pemerintah atau swasta dalam rangka pengembangan dunia Pariwisata Indonesia. Adapun tujuannya untuk:

a. Menghimpun, mempersatukan, meningkatkan, dan membina Pramuwisata Indonesia agar lebih berdaya dan berhasil guna bagi kesejahteran dan kehidupan diabdikan bagi kelestarian Pariwisata Indonesia

b. Berupaya melaksanakan dan menyukseskan pembangunan, pembinaan dan penelitian wawasan pariwisata terkait, baik pemerintah maupun swasta.

c. Bertindak mewakili para anggota dalam memperjuangkan dan melindungi kepentingan bersama.

HPI secara aktif menggalakkan dan melaksanakan pembangunan pariwisata secara teratur, tertib, dan berkesinambungan, memupuk dan meningkatkan semangat serta kesadaran nasional sebagai warga negara Republik Indonesia dan memiliki tanggungjawab yang tinggi terhadap pembangunan pariwisata Indonesia, menciptakan kerjasama dengan pemerintah maupun komponen usaha jasa pariwisata demi terciptanya lapangan kerja yang layak dan merata bagi anggota, berusaha meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan anggota serta administrasi keanggotaan secara teratur sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Visi HPI yaitu menjadikan Himpunan Pramuwisata Indonesia sebagai organisasi yang profesional, terkemuka, dan disegani serta menjadi organisasi unggulan dalam pengembangan pariwisata yang berguna untuk kesejahteraan bersama. Untuk menjalankan visi tersebut maka dijabarkan dalam misi:

1. Meningkatkan profesionalisme dan pengetahuan para anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia dengan terus nenerus melakukan pendidikan melalui pelatihan, seminar, workshop, atau lokakarya dalam bidang yang berkaitan dengan pariwisata

2. Meningkatkan peran HPI Indonesia di dunia pariwisata baik nasional maupun internasional.

Himpunan Pramuwisata Indonesia telah memformulasikan prinsip- prinsip dan standar etika yang akan mengikat pramuwisata Indonesia mengenai tanggung jawab profesi dan sikap tingkah laku dalam melaksanakan profesi pramuwisata.

Para pramuwisata sebagai salah satu rantai dalam jajaran industri pariwisata indonesia sepakat untuk membuat Kode Etik Pramuwisata Indonesia dengan tujuan untuk menciptakan citra bagus pramuwisata Indonesia dalam menjalankan tugasnya, sekaligus yang wajib ditaati, dilaksanakan dan mengikat anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia. Dewan Kode Etik yang dibentuk dari anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia yang memiliki pengetahuan tentang kode etik pramuwisata yang dipilih oleh anggota HPI sesuai dengan tingkatannya.

Oleh karena itu maka tujuan Himpunan Pramuwisata Indonesia adalah untuk menciptakan kondisi yang aman dan nyaman, karena keamanan dan kenyamanan merupakan faktor yang sangat penting dalam tujuan pariwisata dengan potensi wisata yang besar. Potensi tersebut tidak akan tercapai jika kondisi kenyamanan dan keamanan tidak diciptakan.

Dengan demikian apabila di sandingkan dengan kondisi saat ini bahwa eksistensi dari lembaga-lembaga atau HPI ini tampaknya telah menimbulkan kesemerawutan dalam tatanan pemerintahan maupun kerancuan dalam struktur ketatanegaraan.

Sehingga untuk mencapai tujuannya masih jauh dari harapan di dirikan Lembaga tersebut. Hal ini disebabkan karena tingkat independensi yang lemah dan campur tangan pemerintah yang tinggi. Hal-hal ini menjadi pertanyaan yuridis yang tidak sederhana untuk dipecahkan. Tidak sinkronnya penataan yuridis keorganisasian ini harus segera dibenahi agar kesemerawutan itu tidak berlarut-larut dan memunculkan problem ketatanegaraan dan administrasi organisasi di kemudian hari.

Teknologi digital di masa kini semakin canggih ini membuat perubahan besar terhadap dunia, lahirnya berbagai macam teknologi digital yang semakin maju telah banyak bermunculan. Berbagai kalangan telah mudah dalam mengakses suatu informasi melalui banyak cara, serta dapat menikmati fasilitas dari teknologi digital dengan bebas dan terkendali.

Namun, dibalik kepopulerannya era teknologi memiliki berbagai dampak negatif yang bisa merugikan orang. Penggunaan sesuatu secara berlebihan tentunya memiliki dampak negatif, termasuk penggunaan teknologi yang tidak terkontrol, akan menjadi bumerang yang memberi dampak negatif, dalam hal ini lebih khusus kepada profesi Pramuwisata.

Kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan ulasan tersebut diatas adalah bahwa Pramuwisata perlu dibuatkan pengaturan atau payung hukum berupa Undang-undang yang mempunyai peranan yang sangat strategis dalam menjamin keberlanjutan penyelenggaraan kepariwisataan.

Untuk itu maka Pramuwisata perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan sebagai kaum profesi yang profesional, sekaligus untuk mewujudkan pengelolaan kepariwisataan yang serasi, selaras dan seimbang, melalui pengaturan kepramuwisataan yang diharapkan dapat menopang dan menunjang tujuan pembangunan di Republik Indonesia terutama bidang pariwasata, sehingga pramuwisata ke depannya tidak perlu risau lagi dengan adanya teknologi digital, karena ada perlindungan hukum.

Oleh : Dr. Ainuddin S.H.,M.H. (Ketua DPD HPI NTB)

Posting Komentar

Apa reaksimu? silahkan berkomentar. Bebas tapi sopan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel