RSI Soroti Quality Tourism dan Solusi Paket Wisata Murah Liar di Bali

NTBOke - Mencuatnya isu mengenai paket wisata murah yang dijual agen-agen pariwisata di Tiongkok menjadi tamparan telak bagi pengusaha Travel di Bali.

Hal ini mengundang reaksi keras dari Relawan Rumah SandiUno Indonesia (RSI) wilayah Nusa Tenggara Barat.

Menurut Ketua RSI NTB, Amrin, kedatangan turis-turis dari Tiongkok yang membeli paket wisata murah tersebut bukan membawa pemasukan bagi pariwisata, melainkan membawa banyak masalah yang nantinya akan saling kait-mengait.

Paket wisata yang menurut rilis DPP Asita dijual sampai Rp600 ribu (499RMB) itu tentu sangat murah. Apalagi itu sudah termasuk penginapan hotel, makan dan lain sebagainya. Wisatawan datang berlibur di Bali, kemudian berbelanja dan membeli produk-produk yang juga dari Tiongkok.

“Kalau turis datang ke Bali, tapi belanjanya produk dari luar, lalu masyarakat dapat apa? Harusnya, pariwisata itu membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal”, tegasnya.

Kalau ini dibiarkan tambahnya, akan banyak usaha pendukung pariwisata di Bali yang kesulitan. UMKM di Bali juga bisa kena imbas. Termasuk pula industri perhotelan dan jasa-jasa di Bali yang selama ini mendukung pariwisata.

Adanya paket wisata murah ini harusnya juga membuat kita kembali memikirkan mengenai quality tourism, bukan lagi quantity tourism.

Quality tourism, yang mengedepankan pelayanan terbaik dan harga mahal, harus mulai dipikirkan oleh pelaku-pelaku pariwisata kita. Bukan lagi fokus pada banyaknya orang yang datang ke destinasi wisata (quantity tourism).

Pasar turis Timur Tengah yang masih jarang dijamah masih sangat besar. Mereka sangat senang mengunjungi destinasi dengan keindahan alam khas negara-negara tropis. Indonesia, seperti Bali dan Lombok memiliki potensi ini.

“Sudah seharusnya, agen-agen wisata kita mulai melirik potensi pasar ini. Saya percaya, pariwisata kita layak dihargai jauh lebih tinggi”, pungkasnya.

Sebelum permasalahan paket wisata ini berlanjut, pemerintah harus memberikan solusi dan tegas mengatur regulasi mengenai paket-paket wisata, berikut pula pelaku-pelaku pariwisatanya. Harus ada aturan mengenai penentuan harga dan standar pelayanan.

Di tempat terpisah, Taufan Rahmadi yang merupakan Tokoh Muda Pariwisata Indonesia, Anggota TIM Percepatan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas Kemenpar RIFounder Temannya Wisatawan menyoroti sikap pemerintah yang tidak menertibkan agen – agen liar yang selama meresahkan industri pariwisata di Bali.

“Dari adanya aturan tersebut, agen-agen wisata dan pelaku industri wisata tentu akan menyesuaikan. Aturan ini juga tentunya akan menertibkan agen-agen liar yang selama ini meresahkan industri pariwisata di Bali, baik agen yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri. Saya percaya hal ini bisa sangat mudah diterapkan. Pariwisata adalah industri yang paling mudah menyesuaikan diri dengan segala regulasi”, jelas Taufan saat temui oleh awak media.

Adanya masalah agen wisata nakal dari luar negeri ini, menurut Taufan menjadi momentum untuk bergerak bersama untuk Pariwisata Indonesia. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan tata laksana pemerintahan, harus mengajak semua stakeholder dalam industri pariwisata untuk duduk bersama merumuskan solusi masalah ini.

Pemerintah, bersama asosiasi pelaku industri pariwisata, komunitas, akademisi, dan pelaku media harus bisa bersinergi mengaplikasikan solusi tersebut.

“Sudah saatnya semua stakeholder ini bergerak bersama, dan menunjukkan kekuatan pariwisata kita untuk kemajuan kesejahteraan masyarakat”, tambahnya.

Di ahir penyampaiannya, ia berhatap semoga wisata terus disuarakan dan diprioritaskan. Pariwisata adalah sektor yang paling cepat untuk membuka lapangan kerja, memajukan banyak sektor kehidupan masyarakat, dan membawa kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Penulis : TIM
Publikasi : Admin

Posting Komentar

Apa reaksimu? silahkan berkomentar. Bebas tapi sopan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel