Lima Poin Dekarasi MUI NTB dan Ormas Islam

NTBOke – Majelis Ulama Indonesia Nusa Tenggara Barat (MUI NTB) dan sejumlah Ormas Islam mendeklarasikan pemilu damai dan bebas politik SARA. Deklarasi digelar di Mataram, Rabu (19/12/2018).
Beberapa ormas yang hadir dalam deklarasi tersebut, di antaranya Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan lainnya.

Ketua MUI NTB, Prof. H. Syaiful Muslim, MM, mengatakan deklarasi tersebut bertujuan untuk merawat keharmonisan dan perdamaian saat pemilu 2019 mendatang.

“Deklarasi kesediaannya untuk memelihara NKRI. Pada tahun politik ini kita buat pernyataan bersama bahwa MUI se-NTB bersama ormas Islam siap mengawal pemilu yang aman, damai dan sejuk,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebelum deklarasi dibaca, MUI NTB telah menyampaikan hasil dialog nasional antara MUI pusat dan MUI di Indonesia Timur dan Tengah tentang pentingnya kerukunan.

“Sebelum deklarasi, kami sampaikan hasil dialog nasional MUI pusat dan MUI di Indonesia Timur dan Tengah yang diikuti 16 provinsi di Manado. Pada intinya tentang pentingnya kerukunan umat beragama,” jelasnya.

Lima poin dalam deklarasi tersebut adalah : 

(1) Menjaga dan merawat serta memelihara kerukunan intern dan antar umat beragama yang dilandasi rasa toleransi, saling menghormati dan saling menghargai antar sesame umat beragama. 

(2) Menjaga kesucian dan netralitas rumah ibadah sebagai tempat ibadah dan menolak politisasi rumah ibadah untuk kepentingan politik praktis.

(3) Menolak penggunaan rumah ibadah sebagai tempat kampanye Pileg dan Pilpres 2019 seperti pengumpulan dan mobilisasi massa serta pemasangan berbagai atribut kampanye untuk mendukung pasangan calon tertentu.

(4) Menolak politisasi SARA dan ujaran kebencian yang dapat memprovokasi situasi guna kepentingan politik kelompok tertentu dalam pelaksanaan Pileg dan Pilpres 2019.

(5) Berpartisipasi mengawasi, menolak dan mengutuk tindakan radikalisme, terorisme dan intoleran demi keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

“Kita pegang erat bersama-sama (isi dialog Manado) termasuk di NTB. Kami diamanahkan untuk menjalankan kegiatan serupa, sehingga kita manfaatkan hari ini,” ungkap Prof. Syaiful Muslim.

Kapolda NTB, Irjen Pol. Drs. Achmat Juri, yang hadir dalam deklarasi pemilu damai tersebut, mengatakan meskipun demokrasi merupakan kebebasan, namun bukan berarti di alam demokrasi ini digunakan untuk menebar fitnah.

“Sekarang demokrasi, kebebasan. Pola demokrasi meski bebas ya jangan terlalu banyak fitnah,” ujarnya.

Kapolda berharap MUI menjadi pelindung, pengayom, peneduh dan penyejuk masyarakat layaknya tugas polisi, khususnya menjelang pemilu ini.

“Pemersatunya kita berharap dari ulama. Menjadikan masyarakat tetap satu sehingga tidak muncul riak-riak yang bersifat perpecahan. Untuk kemaslahatan umat di NTB,” terangnya. 

Penulis : Dee
Publikasi : Admin

Posting Komentar

Apa reaksimu? silahkan berkomentar. Bebas tapi sopan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel